Ambiguity Aversion

kenapa kita lebih suka risiko yang bisa dihitung daripada ketidakpastian total

Ambiguity Aversion
I

Pernahkah kita berdiri di depan dua restoran saat perut sedang lapar-laparnya? Satu adalah restoran langganan yang rasanya biasa saja, tapi kita tahu persis menunya. Satu lagi restoran baru yang desainnya menarik, tapi kita sama sekali tidak tahu rasanya. Hampir pasti, langkah kaki kita secara otomatis akan masuk ke restoran langganan. Kenapa? Padahal restoran baru itu bisa jadi seratus kali lebih enak.

Mari kita main tebak-tebakan sejenak. Bayangkan di depan teman-teman ada dua kotak tertutup. Kotak A berisi tepat 50 bola merah dan 50 bola hitam. Kotak B juga berisi 100 bola merah dan hitam, tapi komposisinya rahasia. Bisa 99 merah dan 1 hitam, bisa juga sebaliknya.

Aturannya begini: Kalau kita bisa mengambil satu bola merah dari salah satu kotak dengan mata tertutup, kita akan mendapat hadiah uang tunai ratusan juta rupiah. Pertanyaannya, kotak mana yang akan kita pilih?

Menariknya, mayoritas dari kita akan langsung menunjuk Kotak A. Secara logika matematika murni, peluang kita mendapat bola merah di Kotak B sebenarnya persis sama. Tapi entah kenapa, ada semacam "hantu" di dalam pikiran kita yang menolak Kotak B mentah-mentah. Kita seperti punya dorongan alami untuk lari menjauh dari hal yang tidak jelas.

II

Hantu psikologis yang bersarang di kepala kita ini punya sejarah yang sangat panjang. Jauh sebelum kita pusing memilih pindah karir, mencari jodoh, atau menaruh investasi, nenek moyang kita punya masalah yang jauh lebih mendesak: murni bertahan hidup dari hari ke hari.

Coba posisikan diri kita sebagai manusia purba yang sedang mencari makan di hutan belantara. Di depan kita ada dua pohon buah. Pohon pertama sering kita lewati. Kadang buahnya manis, kadang agak asam, tapi kita tahu pasti buah itu tidak beracun. Pohon kedua adalah spesies tanaman yang sama sekali baru. Buahnya tampak berair, warnanya menggoda, dan terlihat lezat.

Apa yang akan kita lakukan? Insting bertahan hidup yang paling purba akan berteriak menyuruh kita memakan buah dari pohon pertama.

Di alam liar, rasa penasaran yang berlebihan sering kali dibayar dengan nyawa. Otak kita perlahan berevolusi menjadi mesin penghitung yang sangat konservatif. Generasi demi generasi, kita dilatih oleh alam semesta untuk memegang prinsip ini: lebih baik berurusan dengan iblis yang kita kenal daripada malaikat yang tidak kita kenal. Kita adalah keturunan dari mereka yang memilih pohon pertama. Mereka yang memilih pohon kedua? Kemungkinan besar tidak berumur panjang.

Tapi masalahnya, ada sesuatu yang aneh terjadi ketika mesin otak purba ini kita bawa ke dunia modern saat ini.

III

Dunia modern tidak lagi berisi buah beracun atau harimau yang bersembunyi di balik semak-semak. Namun, sayangnya, otak kita tidak tahu soal update zaman ini.

Saat ini, ancaman yang kita hadapi bentuknya sangat abstrak. Mengambil tawaran pekerjaan di perusahaan startup yang belum jelas masa depannya. Pindah menetap ke kota baru tanpa satupun kenalan. Atau sekadar memberanikan diri memulai bisnis sendiri.

Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa kita rela bertahan bertahun-tahun di lingkungan pekerjaan yang jelas-jelas toxic dan membuat stres, daripada mencoba peluang baru yang berpotensi besar membuat kita bahagia?

Jawabannya ternyata bisa dilihat secara langsung melalui mesin pemindai otak bernama fMRI. Ketika para ilmuwan saraf memasukkan orang ke dalam mesin ini dan meminta mereka mengambil keputusan dengan probabilitas yang acak dan tidak jelas, ada satu area kecil berbentuk kacang almond di otak mereka yang tiba-tiba menyala sangat terang. Area ini adalah pusat alarm kepanikan kita.

Timbul sebuah pertanyaan besar yang menggelitik. Sebenarnya, apa bedanya "risiko" dan "ketidakpastian" di mata otak kita? Kenapa superkomputer secanggih otak manusia ini mendadak error hanya karena menghadapi sepotong informasi yang tidak lengkap?

IV

Inilah momen di mana sains memberikan pencerahan. Fenomena yang kita rasakan ini, di dalam dunia psikologi, disebut sebagai Ambiguity Aversion, atau keengganan terhadap ambiguitas.

Fakta paling mengejutkannya adalah: kita sebenarnya tidak takut pada risiko, asalkan kita tahu seberapa besar peluang risiko tersebut!

Kita berani naik pesawat terbang karena kita tahu probabilitas kecelakaannya sangat kecil. Kita berani membeli asuransi kesehatan. Kita berani menaruh uang di reksadana. Kenapa? Karena itu semua adalah risiko yang bisa dikalkulasi (calculated risk). Angkanya ada, datanya jelas, probabilitas kegagalannya bisa dihitung.

Tapi, ketika kita dihadapkan pada ketidakpastian total—di mana kita bahkan tidak tahu berapa persentase keberhasilannya—otak kita akan panik luar biasa. Eksperimen tebak bola di awal tadi dikenal dalam sejarah sains sebagai Ellsberg Paradox, dinamai dari ekonom Daniel Ellsberg. Ia membuktikan bahwa manusia secara tidak rasional akan selalu menghindari pilihan yang informasinya dibiarkan mengambang.

Saat kita melihat Kotak A yang probabilitasnya 50/50, korteks prefrontal kita—bagian otak depan yang logis—bekerja dengan tenang. "Tenang saja, peluangnya lumayan," kata bagian rasional kita.

Tapi saat melihat Kotak B yang misterius, amigdala kita seketika mengambil alih kemudi dan membunyikan sirine bahaya sekeras-kerasnya. "Awas! Kita tidak tahu apa yang ada di sana! Mundur!" Otak kita secara literal memproses ambiguitas bukan sebagai sekadar ketiadaan informasi, melainkan sebagai ancaman fisik yang nyata.

V

Memahami cara kerja Ambiguity Aversion ini rasanya seperti menyalakan sakelar lampu di ruangan gelap yang selama ini menakutkan kita. Tiba-tiba, banyak keraguan dan kecemasan dalam hidup kita yang mulai masuk akal.

Sangat wajar jika kita merasa luar biasa cemas saat menghadapi masa depan yang kabur. Wajar jika kita overthinking sebelum mengambil keputusan besar yang belum ada jaminannya. Itu sama sekali bukan tanda bahwa kita ini lemah, pesimis, atau penakut. Itu murni biologi dasar. Otak kita hanya sedang menjalankan program software keamanan purba miliknya dengan sangat baik.

Namun teman-teman, kita harus sadar bahwa kita tidak lagi hidup di zaman batu. Di dunia modern ini, justru di dalam ketidakpastian total itulah letaknya segala inovasi, cinta sejati, dan penemuan terbesar dalam sejarah manusia. Keputusan-keputusan terbaik dan paling mendewasakan dalam hidup, sering kali memang mengharuskan kita berani melangkah masuk ke dalam kabut putih, tanpa tahu persis apa yang ada di ujung jalannya.

Jadi, lain kali ketika kita merasa ragu mengambil sebuah langkah maju hanya karena kita tidak tahu bagaimana probabilitas suksesnya, ingatlah sains di balik keraguan ini. Merasa takut itu manusiawi. Tarik napas panjang, tersenyum, dan ucapkan terima kasih pada amigdala kita yang sedang mati-matian mencoba melindungi kita dari bahaya khayalan.

Setelah itu? Tetaplah melangkah maju. Karena kadang-kadang, kotak yang paling misterius justru menyimpan kejutan hidup yang paling indah.